Menulis Di Periferei : Marjinalitas Dalam Karya Fiksi Dan Non-Fiksi Penulis Asia, Eropa Dan Amerika

      Komentar Dinonaktifkan pada Menulis Di Periferei : Marjinalitas Dalam Karya Fiksi Dan Non-Fiksi Penulis Asia, Eropa Dan Amerika
menulis di periferi

Menulis Di Periferei : Marjinalitas Dalam Karya Fiksi Dan Non-Fiksi Penulis Asia, Eropa Dan Amerika – Buat kamu yang ingin membaca buku bacaan yang out of the box? Buku berjudul menulis di periferei ini adalah jawabannya. Lestari manggong sengaja menuliskan buku ini untuk membukakan perspektif baru. Buku ini akan mengupas isu-isu menarik. penasaran bukan issu apa saja itu? langsung saja sebagai berikut

Sebuah pandangan menyikapi perayaan Hari Kartini

Untuk mengawali topic, penulis mengawalinya dengan sikap menyikapi hari kartini. Seperti yang kita tahu bahwa hari kartini adalah emansipasi perepuan yang tidak habis-habisnya dibicarakan dan kerap dikaitkan dengan perjuangan Kartini. Perempuan manapun yang mengalami tindak ketidakadilan dan merasa terkekang tentunya secara instingtif akan memimpikan ini.

Isu pertama yang dibidiknya adalah kesetaraan pemerolehan pendidikan bagi perempuan. Ia memiliki prinsip kuat di bidang pendidikan. Dimana pendidikan sebagai landasan kokokh untuk mengantarkan kaumnya ke tingkat hidup yang lebih baik. Penulis juga menuliskan di halaman dua. Bahwa dalam surat pertama Kartini untuk Stella Zeehandelaar, kartini mengeluarkan pernyataan.

Pernyataan kartini adalah pemicu gerakan menuju perubahan yang dilakukannya melalui jalur pendidikan bukanlah hanya karena suara-suara dari seberang, dari eropa yang beradab dan sedang mengalami reformasi. Revolusi dalam hal ini adalah revolusi seksual yang terjadi di belahan bumi barat dalam rentang tahun 1830-1930.

Di bab ini pun juga disampaikan ada masalah dilematis setelah emansipasi ini ditegakan. Penasaran dilemma yang seperti apa? Kamu bisa simak ulasannya langsung di bukunya.

Menelanjangi shakuntala: Mengupas Tubuh dan Seksualitas dalam kajian poskolonial

Isu pembahasan yang tidak kalah menarik yang diangkat oleh penulis adalah di bab ini. barangkali kamu pernah mendengar feminism poskolonial? Saya yakin banyak yang asing mendengar istilalh ini. Menurut Lestari Manggoong feminism poskolonial menjelaskan aspek-aspek apa saja yang melingkupi jenis kerangka teori yang dapat dikatakan lumayan mutakhir.

Feminism poskolonial sebuah intervensi yang mengubah konfigurasi kajian poskolonial dan feminis. Dengan kata lain, feminism poskolonial memediasi sekaligus memunculkan bentuk lain gabungan dari kajian poskolonial dan feminis. Meskipun secara umum isu utama yang dipermasalahkan aalah feminism, ada relasi yang terbentuk antara yang berjenis kelamin laki dan perempuan.

Di bab inilah kamu juga akan berkenalan dengan perspektif baru, yaitu tentang shakuntala dalam saman. Sebuah novel yang mampu menyuarakan gabungan isu tentang ideology terhadap perempuan, tubuh, seksualitas, dan dampak kolonialisme. Di bab ini akan di ulas sangat menarik dan kritis. Penasaran seperti apa? Kamu bisa ikut ulasannya hanya di bukunya langsung.

Disharmoni Sosial Dalam Karya Fiksi LGBT Amerika Edmund White

Siapa sih yang tidak panas dengan kasus LGBT? Akan lebih banyak orang yang merasa sebal dengan LGBT. Di bab ini kamu akan diantarkan pada perspektif yang kritis. Tidak lupa pula penulis menyantumkan teori dan metode penelitian terhadap harmonisasi sosial dan karya fiksi marjinal, kajian LGBT dan maish banyak lagi tentu saja.

Menariknya lagi, di bab ini kita akan melihat paralelisme antara karakterisasi narrator dan politik era tahun 1950-an di Amerika. Penasaran dan tertarik bukan seperti apa sih ceritanya? Oh iya, kamu juga akan membaca disharmoni sosial dalam the beautiful room is empty, di bab pembahasan ini juga tidak kalah menarik juga loh. Dan ini wajib kamu baca.

buku terbitan Deepublish ini sangat menarik. karena selalu ada perspektif menarik dan baru yang akan diikuti dan dikupas tuntas. tentu saja ada banyak ilmu. Dari segi bahasa pun juga sangat mudah dipahami dan menyenangkan.

Subalternitas dan kearifan lokal marjinal dalam feminist fables suniti namjoshi

Fermnist fables sebenarnya kumpulan fable dan dongeng anak kontemporer yang alusinya banyak merujuk pada fable dan dongeng anak dari Eropa dan India. Cerita-ceritanya memproblematisasi pesan moral dalam kerangka kritik feminis. Dalam dua dari 100 cerita yang akan dibahas dalam makalah ini, tokoh-tokoh bergender perempuan digambarkan berdasarkan stereotip yang dilekatkan pada perempuan yang inferior dan lemah.

Meskipun ceritanya bergenre fable dan deongeng anak, feminist fables jelas tidak didesain untuk dibaca oleh anak-anak loh. Argoumentasi kongklusif yang ditawarkan oleh makalah ini secara spesifik memfokuskan cara cerita yang disampaikan. Dimana yang menekankan kearifan lokal marjinal. Dari sini kamu sudah bisa melihat betapa menarik isu-isu yang ternyata bisa dikemas dalam bentuk cerita.

Adapun beberapa poin yang akan kamu ambil lainnya, misalnya permasalahan naratif berteknik penceritaan free indirect discourse dalam karya jane austen, james joyce, dan Maxine hong Kingston. Selain itu ada pula bab yang fokus pada mengisi sejarah melalui narasi berkomposisi kontrapuntal dalalm china men karya Maxine Hong Kingston. Dan tentu saja masih ada banyak pembahasan menarik lainnya.

Baca juga : Identitas Buku Meliputi : Arti dan Macamnya