Obat Penghambat HIV

      Comments Off on Obat Penghambat HIV

AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS.

Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun jika tidak diberi obat HIV. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.

Inilah Obat-Obat Untuk Menghabat HIV

  1. Konsumsi Obat ART (Anti Retroviral Therapy)

Obat ini khusus bekerja untuk mengatasi perkembangan virus sehingga bisa memberikan harapan hidup yang lebih panjang untuk penderita HIV AIDS. Obat ini sama sekali tidak bisa menyembuhkan HIV AIDS. Pemakaian obat ini pada ibu hamil bisa mengurangi resiko virus penyakit menular ini ke janin. Namun pada dasarnya obat ini sama sekali tidak menyembuhkan dan hanya mengurangi berbagai gejala dan infeksi penyakit lain.

  1. Obat Antiretroviral (ARV)

Ini adalah salah satu jenis obat yang dikembangkan untuk menghentikan kerusakan sel dalam tubuh akibat dari infeksi HIV. Cara mengobati HIV AIDS ini juga bisa digunakan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga bisa mencegah kerusakan sel tubuh yang lebih parah. Obat ini diperlukan seumur hidup bagi penderita HIV AIDS. Berhenti dari perawatan ini akan membuat tubuh menjadi lebih resisten sehingga perawatan harus dilakukan secara terus menerus.

  1. Obat ARV untuk Ibu Hamil

Ibu hamil memerlukan obat ARV untuk mencegah penularan virus dari dirinya ke janin dalam rahim. Jika ibu hamil tidak melakukan perawatan ini maka kemungkinan besar bisa menularkan virus ke janin sehingga bayi yang lahir terinfeksi HIV. Ibu hamil juga disarankan untuk melakukan proses persalinan cesar dibandingkan proses persalinan normal untuk mencegah penularan virus. Selain itu, ibu hamil juga dilarang untuk menyusui bayi karena HIV bisa menular lewat ASI.

Efek Samping Perawatan Medis

Pemakaian berbagai jenis obat seperti ARV atau ART memang banyak disarankan oleh dokter. Obat ini memang tidak akan menyembuhkan HIV AIDS, tapi paling tidak bisa mengurangi gejala dan dan berbagai penyakit yang menyerang penderita karena sistem kekebalan tubuh yang terus melemah. Namun perawatan ini juga sering dihindari karena menyebabkan beberapa efek samping dibawah ini.

  • Sulit untuk tidur dan terkadang juga bisa menyebabkan tekanan mental serta depresi
  • Gangguan pencernaan yang menyebabkan mual dan muntah secara terus menerus
  • Sakit kepala dan badan yang terasa lebih lemah
  • Penyakit kulit yang menyebabkan beberapa bagian kulit menjadi lebih hitam atau merah
  • Berbagai efek samping ini juga bisa menyebabkan kurang percaya diri bagi penderita HIV AIDS.

Cara Penularan HIV

Lewat cairan darah:

  • Melalui transfusi darah / produk darah yg sudah tercemar HIV
  • Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna Narkotika Suntikan
  • Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya : peyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah

Lewat cairan sperma dan cairan vagina :

  • Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) ; atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.

Lewat Air Susu Ibu :

  • Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina; kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
  • Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.